√ Apa Itu Sensory Processing Disorder - Apa itu

Apa Itu Sensory Processing Disorder

Sensory Processing Disorder atau SPD adalah gangguan pengolahan sensorik yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk memproses informasi sensorik dari lingkungan sekitarnya. Gangguan ini dapat mengganggu fungsi motorik kasar dan halus, persepsi visual dan auditori, serta kemampuan sosial dan emosional. Gangguan ini dapat terjadi pada anak-anak maupun orang dewasa.

Apa Itu SPD?

SPD adalah gangguan yang tidak terlihat dengan jelas, namun dapat mempengaruhi kualitas hidup seseorang. Gangguan ini dapat membuat seseorang merasa kebingungan, cemas, frustrasi, atau bahkan overstimulated oleh lingkungan sekitarnya.

Gambar anak-anak sedang bermain

Meskipun SPD bukan merupakan gangguan yang terlihat, namun gejala-gejala dari gangguan ini dapat menyebabkan perubahan psikologis yang signifikan pada seseorang. Gejala seperti kesulitan dalam koordinasi motorik kasar dan halus, sensitif terhadap suara atau cahaya, kesulitan dalam memproses informasi dari lingkungan sekitarnya, atau kesulitan dalam berbicara dan berkomunikasi dapat membuat seseorang merasa kesulitan dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.

Mengapa SPD Terjadi?

SPD terjadi ketika sistem saraf seseorang mengalami gangguan. Gangguan ini dapat terjadi ketika persepsi sensorik dari seseorang tidak berfungsi dengan baik. Misalnya, ketika seseorang terlalu sensitif terhadap cahaya atau suara, atau ketika seseorang tidak dapat memproses informasi dari lingkungan sekitarnya dengan baik.

Gambar orang lagi cemas

SPD dapat juga terjadi pada orang yang memiliki kondisi medis lain, seperti autisme, ADHD, atau gangguan kecemasan. Beberapa anak memang memiliki kondisi genetik yang menyebabkan SPD. Namun, sebagian besar kasus SPD diduga disebabkan oleh pengaruh lingkungan, seperti kekurangan sensorik yang diperoleh selama masa perkembangan.

Jenis-Jenis SPD

SPD dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu:

  1. Gangguan Modulasi Sensorik
  2. Gangguan ini terjadi ketika seseorang mengalami kesulitan dalam mengatur atau menyesuaikan respon sensorik terhadap stimulus dari lingkungan sekitarnya.

  3. Gangguan Diskriminasi Sensorik
  4. Gangguan ini terjadi ketika seseorang mengalami kesulitan dalam membedakan antara suara, warna, tekstur, dan benda-benda dalam lingkungan sekitarnya.

  5. Gangguan Sensasi Kinestetik
  6. Gangguan ini terjadi ketika seseorang mengalami kesulitan dalam memproses informasi yang diterima dari gerakan tubuh.

  7. Gangguan Sensasi Taktis
  8. Gangguan ini terjadi ketika seseorang mengalami kesulitan dalam memproses sensasi yang berasal dari kulit, seperti rasa sakit, sentuhan, atau tekanan.

  9. Gangguan Proprioceptive
  10. Gangguan ini terjadi ketika seseorang mengalami kesulitan dalam memproses informasi yang diterima dari otot, persendian, dan keseimbangan tubuhnya.

  11. Gangguan Vestibular
  12. Gangguan ini terjadi ketika seseorang mengalami kesulitan dalam memproses informasi yang diterima dari telinga dalamnya, yang mempengaruhi keseimbangan dan koordinasi gerakan tubuh.

Sejarah Penyakit Sensory Processing Disorder

SPD atau gangguan integrasi sensorik pertama kali ditemukan oleh seorang terapis okupasi bernama A. Jean Ayres pada tahun 1960-an. Ayres menyadari bahwa anak-anak dengan gangguan perkembangan sering memiliki masalah dalam memproses informasi sensorik dari lingkungan sekitarnya. Kemudian, Ayres mengembangkan teori integrasi sensorik dan terapi untuk membantu anak-anak dengan SPD.

Gambar orang lagi merenung

Namun, meskipun SPD telah diakui sebagai gangguan oleh sejumlah organisasi kesehatan dan pendidikan, beberapa orang masih meragukan keberadaan gangguan ini. Beberapa orang berpendapat bahwa SPD hanyalah cara terapis okupasi untuk menghasilkan uang dari orang tua yang mencari bantuan untuk anak-anak mereka.

Tips untuk Mengatasi SPD

Beberapa tips yang dapat membantu seseorang dengan SPD antara lain:

  • Menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi diri sendiri atau anak-anak.
  • Melakukan terapi okupasi yang bisa membantu dalam memperbaiki pengolahan sensorik.
  • Menggunakan teknik relaksasi seperti yoga atau meditasi untuk mengurangi kecemasan dan stres.
  • Berbicara dengan dokter untuk mendapatkan terapi atau obat-obatan yang bisa membantu mengatasi gangguan tersebut.
  • Berbicara dengan guru atau ahli terapi perkembangan anak untuk mendapatkan dukungan dan bantuan dalam memperbaiki pengolahan sensorik.

Cara Memilih Terapis Okupasi

Jika Anda atau anak Anda membutuhkan terapi okupasi untuk mengatasi SPD, berikut adalah beberapa tips untuk memilih terapis okupasi yang tepat:

  • Pastikan terapis okupasi yang Anda pilih memiliki lisensi resmi dan akreditasi dari organisasi kesehatan setempat.
  • Cari tahu tentang pengalaman dan reputasi terapis okupasi tersebut.
  • Pastikan terapis okupasi memiliki pengalaman dalam menangani kasus SPD dan memiliki pendekatan dan teknik terapi yang sesuai dengan kebutuhan Anda atau anak Anda.
  • Pastikan terapis okupasi memiliki sertifikasi dan pelatihan yang cukup dalam melakukan terapi okupasi.
  • Periksa biaya terapi dan pastikan Anda atau anak Anda mampu membayarnya.
  • Pastikan terapis okupasi benar-benar memahami kondisi Anda atau anak Anda dan memiliki kepekaan yang cukup dalam memperlakukan pasien dengan SPD.

Keuntungan dari Terapi Okupasi untuk SPD

Terapi okupasi dapat membantu meningkatkan kemampuan seseorang untuk memproses informasi sensorik dari lingkungan sekitarnya. Terapi ini juga dapat membantu meningkatkan fungsi motorik, kemampuan sosial dan emosional, serta kemampuan belajar dan berkonsentrasi. Selain itu, terapi okupasi dapat membantu seseorang untuk mengatasi masalah keseimbangan, kelelahan, dan stres yang disebabkan oleh SPD.

Manfaat Terapi Okupasi untuk Anak dengan SPD

Terapi okupasi dapat memberikan manfaat yang signifikan bagi anak dengan SPD, antara lain:

  • Meningkatkan kemampuan sosial dan emosional.
  • Meningkatkan keterampilan motorik kasar dan halus.
  • Meningkatkan kemampuan berbicara dan berkomunikasi.
  • Meningkatkan kemampuan belajar dan berkonsentrasi.
  • Meningkatkan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya.
  • Meningkatkan keseimbangan dan koordinasi gerakan tubuh.

Rekomendasi Terapi Okupasi untuk SPD

Beberapa jenis terapi okupasi yang direkomendasikan untuk mengatasi SPD antara lain terapi aktivitas berpola, terapi pengendalian sensorik, terapi bermain, terapi gerak sensorik, dan terapi sensorik integratif. Terapi okupasi dapat dilakukan secara individu maupun kelompok, tergantung pada kebutuhan dan preferensi pasien.

Gambar bayi sedang menangis

SPD bukanlah gangguan yang dapat sembuh dengan sendirinya, namun terapi okupasi dapat membantu dalam memperbaiki pengolahan sensorik seseorang. Terapi okupasi dapat membantu seseorang untuk meningkatkan kualitas hidup dan menjadi lebih mandiri dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.


Get notifications from this blog